ARTIKEL 1 : AKU PERCAYAAKAN ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI – Pasal 1 “Aku Percaya Akan Allah” ( 199 – 421 )

Komentar Dimatikan

199   “Aku percaya akan Allah”, pernyataan pertama dari pengakuan iman ini juga yang paling mendasar. Seluruh pengakuan berbicara tentang Allah, dan kalaupun ia berbicara juga tentang manusia dan tentang dunia, maka itu dilakukan dalam hubungan dengan Allah. Artikel-artikel Kredo semuanya bergantung dari yang pertama, sama seperti perintah-perintah dekalog selanjutnya mengembangkan perintah yang pertama. Artikel-artikel berikutnya membuat kita mengenal Allah lebih baik, seperti Ia mewahyukan Diri kepada manusia, langkah demi langkah. “Sepantasnya umat beriman lebih dahulu mengakui bahwa mereka percaya akan Allah” (Catech. R.1,2,6).

I.       “Kami Percaya akan Satu Allah”

200   Kredo Nisea-Konstantinopel mulai dengan kata-kata ini. Pengakuan akan keesaan Allah, yang berakar dalam wahyu ilahi Perjanjian Lama, tidak dapat dipisahkan dari pengakuan tentang adanya Allah dan dengan demikian sangat mendasar. Allah adalah Esa; ada hanya satu Allah. “Kepercayaan Kristen memegang teguh dan mengakui … bahwa Allah adalah Esa menurut kodrat, substansi, dan hakikat” (Catech.R. 1,2,2).

201   Tuhan sebagai Yang Esa mewahyukan Dia kepada Israel, bangsa yang dipilih-Nya: “Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Dengan perantaraan para nabi, Allah mengajak Israel dan semua bangsa supaya berpaling kepada-Nya, Allah yang satu-satunya: “Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi. Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain … semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan” (Yes 45:22-24)1.

202   Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah “adalah satu-satunya Tuhan” dan bahwa orang harus mencintai-Nya dengan sepenuh hatinya, dengan segenap jiwanya, dengan seluruh akalnya, dan dengan segala kekuatannya. Pada waktu yang sama Ia juga menyatakan bahwa Ia sendiri adalah “Tuhan”. Memang pengakuan bahwa “Yesus itu Tuhan” adalah kekhasan iman Kristen. Namun ia tidak bertentangan dengan iman akan Allah yang Esa. Juga iman akan Roh Kudus “yang adalah Tuhan dan membuat hidup”, tidak membawa perpecahan dalam Allah yang Esa: .

“Kami percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa ada hanya satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, mahakuasa, dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus: meskipun tiga Pribadi, tetap satu hakikat, substansi atau kodrat yang sama sekali tak tersusun [dari bagian-bagian]” (Konsili Lateran IV: DS 800).

II.      Allah Mewahyukan Nama-Nya

203   Allah mewahyukan Diri kepada bangsa-Nya Israel dengan memberitahukan nama-Nya. Nama mengungkapkan hakikat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya. Allah mempunyai nama. Ia bukanlah kekuatan tanpa nama. Menyatakan nama berarti memperkenalkan diri kepada orang lain; berarti seakan-akan menyerahkan diri sendiri, membuka diri, supaya dapat dikenal lebih dalam dan dapat dipanggil secara pribadi.

204   Allah menyatakan Diri kepada bangsa-Nya langkah demi langkah dan dengan berbagai nama. Namun wahyu pokok untuk Perjanjian Lama dan Baru adalah wahyu nama Allah kepada Musa pada penampakan dalam semak duri bernyala sebelum keluar dari Mesir dan sebelum perjanjian Sinai.

Allah yang Hidup

205   Allah menyapa Musa dari tengah semak duri yang menyala tanpa terbakar. Ia berkata kepada Musa: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Allah adalah Allah para bapa, yang memanggil bapa-bapa bangsa dan membimbing mereka dalam perjalanan mereka. Ia adalah Allah yang setia dan turut merasakan, yang ingat akan para bapa dan akan perjanjian-Nya. Ia datang untuk membebaskan keturunannya dari perbudakan. Ia adalah Allah yang dapat dan mau melakukan ini tanpa bergantung pada waktu dan tempat. Ia melaksanakan rencana-Nya melalui kemahakuasaan-Nya.

“Aku Adalah AKU ADA”

“Musa berkata kepada Allah: `Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang namanya? – apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: `AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: `Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu… itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun” (Kel 3:13-15).

206   Dengan mewahyukan nama-Nya yang penuh rahasia, YHWH: “Aku adalah Dia yang ada” atau “Aku adalah AKU ADA”, Allah menyatakan siapa Dia dan dengan nama apa orang harus menyapa-Nya. Nama Allah ini penuh rahasia, sebagaimana Allah sendiri juga penuh rahasia. Ia adalah nama yang diwahyukan dan pada waktu yang sama boleh dikatakan sebuah penolakan untuk menyatakan suatu nama. Tetapi justru karena itu ia menegaskan dengan cara yang paling baik, Siapa sebenarnya Allah: Yang mengatasi segala sesuatu, yang tidak dapat kita mengerti atau katakan, Yang Mulia tak terbatas. Ia adalah “Allah yang tersembunyi” (Yes 45:15), nama-Nya tidak terkatakan dan bersama itu pula Ia adalah Allah yang menghadiahkan kehadiran-Nya kepada manusia.

207   Bersama dengan nama-Nya Allah mewahyukan sekaligus kesetiaan-Nya yang ada sejak dulu dan akan tinggal selama-lamanya: Ia setia, “Aku ini Allah nenek moyangmu” (Kel 3:6) dan akan tetap setia, “Aku ada beserta kamu” (Kel 3:12). Allah, yang menamakan Diri “AKU ADA”, mewahyukan Diri sebagai Allah yang selalu hadir, selalu menyertai bangsa-Nya untuk meluputkannya.

208   Mengingat kehadiran Allah yang penuh rahasia dan pesona, manusia menyadari kehinaannya. Di depan semak berduri yang menyala, Musa membuka sandalnya dan menutup mukanya sebab takut memandang Allah. Di depan kemuliaan Allah yang tiga kali kudus, Yesaya berseru: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5). Melihat tanda-tanda ilahi yang Yesus lakukan, Petrus berseru: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa” (Luk 5:8). Tetapi karena Allah itu kudus, Ia dapat mengampuni manusia yang mengakui diri sebagai orang berdosa di hadapan-Nya: “Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu… sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu” (Hos 11:9). Demikian juga Rasul Yohanes berkata: “Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1 Yoh 3:19-20).

209   Karena hormat kepada kekudusan Allah, bangsa Israel tidak mengucapkan nama Allah. Waktu membaca Kitab Suci, nama yang diwahyukan diganti dengan gelar martabat ilahi “Tuhan” (“Adonai”, dalam bahasa Yunani “Kurios”). Dengan gelar ini ke-Allah-an Yesus diakui secara meriah: “Yesus adalah Tuhan”.

“Tuhan yang Rahim dan Berbelaskasihan”

210   Setelah Israel berdosa dan berbalik dari Allah, dengan menyembah anak lembu emas, Allah mendengarkan permohonan Musa dan bersedia berjalan bersama bangsa-Nya yang tidak setia itu. Dengan demikian Ia menunjukkan cinta-Nya. Ketika Musa meminta supaya boleh melihat kemuliaan-Nya, Allah menjawabnya: “Aku akan melewatkan segala kegemilangan-Ku di depanmu dan menyerukan nama YHWH di depanmu” (Kel 33:18-19). Dan Tuhan berjalan lewat di depan Musa dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Lalu Musa mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang mengampuni.

211   Nama Allah “AKU ADA” atau “IA ADA” menyatakan kesetiaan Allah. Kendati ketidaksetiaan yang terdapat dalam dosa manusia, dan kendati siksa atasnya, Allah “mengasihi beribu-ribu keturunan” (Kel 34:7). Allah mewahyukan bahwa Ia “murah hati” (Ef 2:4) dan Ia berlangkah begitu jauh sampai Ia menyerahkan Putera-Nya sendiri. Yesus mengurbankan kehidupan-Nya supaya membebaskan kita dari dosa, dan dengan demikian mewahyukan bahwa Ia sendiri menyandang nama ilahi itu: “Apa bila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, kamu akan tahu, bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:28).

Hanya Allah yang Ada

212   Dalam jangka waktu berabad-abad iman Israel dapat mengembangkan kekayaan, yang terungkap dalam wahyu nama Allah, dan dapat menyelaminya. Allah itu Esa; di samping Dia tidak ada Allah lain. Ia agung melebihi dunia dan sejarah. Ia menciptakan langit dan bumi: “Semuanya akan musnah, tetapi Engkau tetap sama, hidup-Mu tak akan berakhir” (Mzm 102:27-28). Padanya “tidak ada perubahan dan tidak ada kegelapan” (Yak 1:17). Dialah “YANG ADA” dari dahulu dan untuk selama-lamanya dan dengan demikian Ia tetap setia kepada Diri sendiri dan kepada perjanjian-Nya.

213   Dengan demikian wahyu mengenai nama yang tak terucapkan “AKU adalah AKU ADA” mengandung kebenaran bahwa hanya Allah yang ADA. Terjemahan Septuaginta dan tradisi Gereja memahami nama Allah dalam arti: Allah adalah kepenuhan keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal dan akhir. Sementara segala makhluk ciptaan menerima segala-galanya, keberadaan dan milik mereka dari Dia, hanya Ia sendiri merupakan Keberadaan-Nya dan memilikinya dari diri-Nya sendiri.

III.     Allah, ” Ia yang Ada”, Adalah Kebenaran dan Cinta

214   Allah, “la yang ada”, telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. “Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi” (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena “Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5); Ia adalah “cinta”, seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).

Allah Adalah Kebenaran

215   “Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya” (Mzm 119:160). “Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati” (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.

216   Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.

217   Allah juga benar, apabila Ia mewahyukan Diri: Ajaran yang datang dari Tuhan, adalah “ajaran yang benar” (Mal 2:6). Ia mengutus Putera-Nya ke dunia, supaya Ia “memberikan kesaksian tentang kebenaran” (Yoh 18:37). “Anak Allah telah dating dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal [Allah] Yang Benar” (1 Yoh 5:20).

Allah Adalah Cinta

218   Dalam peredaran sejarah, Israel dapat mengerti bahwa Allah hanya mempunyai satu alasan untuk mewahyukan Diri kepadanya dan memilihnya dari antara segala bangsa, supaya menjadi milik-Nya: cinta-Nya yang berbelaskasihan. Berkat nabi-nabinya Israel mengerti bahwa Allah karena cinta-Nya selalu saja meluputkannya dan mengampuni ketidaksetiaannya dan dosa-dosanya.

219   Cinta Tuhan kepada Israel dibandingkan dengan cinta seorang bapa kepada puteranya. Cinta itu lebih besar daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Allah mencintai bangsa-Nya lebih dari seorang pengantin pria mencintai pengantin wanita. Cinta ini malahan akan mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk. Ia akan berlangkah sekian jauh, sampai Ia menyerahkan juga yang paling dicintai-Nya: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16).

220   Cinta Allah itu “abadi” (Yes 54:8): “Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu” (Yes 54:10). “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer 31: 3).

221   Santo Yohanes berlangkah lebih jauh lagi dan berkata: “Allah adalah kasih” (1 733 Yoh 4:8-16): Cinta adalah kodrat Allah. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal dan Roh cinta pada kepenuhan waktu, Allah mewahyukan rahasia-Nya yang paling dalam; Ia sendiri adalah pertukaran cinta abadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan Ia telah menentukan supaya kita mengambil bagian dalam pertukaran itu.

IV      Arti Iman akan Allah yang Esa

222   Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita:

223   Kita mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah. “Sesungguhnya, Allah itu agung, tidak tercapai oleh pengetahuan kita” (Ayb 36:26). Karena itu, “kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali” (Jeanne dArc).

224   Kita hidup dengan ucapan terima kasih: Kalau Allah itu Esa, maka segala sesuatu yang ada pada kita dan yang kita miliki, berasal dari Dia: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Kor 4:7). “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12).

225   Kita mengetahui kesatuan dan martabat yang benar semua manusia: Mereka 4 semua diciptakan menurut citra Allah, sesuai dengan-Nya.

226   Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia.

“Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang-halangi aku untuk datang kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu”.
(Nikolaus dari Flue, Doa).

227   Kita percaya kepada Allah dalam setiap keadaan, juga dalam hal-hal yang mengganggu. Doa Santa Teresia dari Yesus mengungkapkan ini dengan sangat mengesankan:

Semoga tidak ada hal yang membingungkan engkau, Semoga tidak ada hal yang menakutkan engkau.
Segala sesuatu akan berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran memperoleh segala sesuatu.
Siapa yang memiliki Allah tidak kekurangan sesuatu pun.
Allah sendiri mencukupi.  (poes. 30)

TEKS-TEKS SINGKAT

228   “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa ” (UI 6.:4, menurut Mrk 12:29). “Apa yang mau dipandang sebagai yang terbesar harus esa sifatnya dan tidak boleh mempunyai tandingannya … Sebab kalau Allah tidak esa, maka Ia bukan Allah” (Tertulianus, Marc, 1,3).

229   Iman akan Allah mendorong kita, supaya berpaling hanya kepada Dia sebagai awal mula kita yang pertama dan sebagai tujuan akhir kita dan tidak boleh ada sesuatu pun yang mendahului-Nya atau mengganti-Nya.

230   Walaupun Allah mewahyukan Diri, namun Ia tetap tinggal rahasia yang tidak terucapkan: “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah ” (Agustinus, serm. 52, 6,16).

231   Allah yang kita imani telah mewahyukan Diri sebagai YANG ADA: la menyatakan Diri sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan ” (Kel 34:6). Kebenaran dan cinta adalah kodrat-Nya.

BAB I : AKU PERCAYA AKAN ALLAH BAPA ( 198 – 421 )

Komentar Dimatikan

198   Pengakuan iman kita mulai dengan Allah, karma Allah adalah “Yang Pertama” dan “Yang Terakhir” (Yes 44:6), Awal dan Akhir segala sesuatu. Syahadat mulai dengan Allah Bapa, karena Bapa adalah Pribadi pertama Tritunggal Mahakudus; ia mulai dengan penciptaan langit dan bumi karena penciptaan adalah awal dan dasar segala karya Allah.

SEKSI II : PENGAKUAN IMAN KRISTEN ( 185 – 1065 )

Komentar Dimatikan

PENGAKUAN IMAN KRISTEN

CREDO

Pengakuan iman apostolik Pengakuan iman Nisea-Konstantinopel
Aku percaya akan Allah,
Bapa yang mahakuasa,
Pencipta langit dan bumi.
Kami percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan.
Dan akan Yesus Kristus,
Putera-Nya yang tunggal,
Tuhan kita,
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putera Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad.
Allah dari Allah,
terang dari terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia,
dan untuk keselamatan kita.
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, wafat dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian,
Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus
dari Perawan Maria:
dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita.
Waktu Pontius Pilatus
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati;
yang naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah
Bapa yang mahakuasa;
dari situ Ia akan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Pada hari ketiga Ia bangkit,
menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
Kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Kami percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putera.
Yang serta Bapa dan Putera
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
Gereja Katolik yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
Kami percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Kami mengakui satu Pembaptisan
akan penghapusan dosa.
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.
Amin.
Kami menantikan kebangkitan orang mati.
Dan hidup di akhirat.

SIMBOLA IMAN

185   Yang berkata: “Aku percaya”, berkata: “Saya setuju dengan apa, yang kita percaya”. Persekutuan dalam iman membutuhkan bahasa iman yang sama, yang mengikat semua dan yang mempersatukan dalam pengakuan iman yang sama.

186   Sejak awal, Gereja apostolik sudah mengungkapkan dan meneruskan imannya dalam rumus-rumus yang singkat dan baku untuk semua. Tetapi dengan segera Gereja juga hendak memasukkan inti sari dari imannya dalam ringkasan yang organis dan tersusun, yang dimaksudkan terutama untuk calon Pembaptisan:

“Bukan kesewenang-wenangan manusiawi telah menyusun ringkasan iman ini, melainkan ajaran-ajaran terpenting dari seluruh Kitab Suci dihimpun di dalamnya, menjadi ajaran iman yang satu-satunya. Bagaikan biji sesawi membawa banyak cabang dalam sebuah biji kecil, demikianlah ringkasan iman ini mencakup dalam kata-kata yang sedikit semua pengetahuan dari Perjanjian Lama dan Baru” (Sirilus d. Yerusalem, catech. ill. 5,12).

187   Ringkasan-ringkasan iman ini dinamakan “pengakuan iman” karena mereka meringkaskan iman yang diakui umat Kristen. Orang menamakannya juga “Credo”, karena dalam bahasa Latin mereka biasanya mulai dengan kata “Credo” [Aku percaya]. Nama lain ialah “Simbola iman”.

188   Kata Yunani “sumbolon” menggambarkan separuh dari sebuah benda yang utuh yang dipecahkan menjadi dua (umpamanya segel), yang dipakai sebagai tanda pengenal. Kedua bagian itu dihubungkan untuk memeriksa identitas pemakai. Jadi, “simbolon iman” adalah tanda pengenal dan tanda persekutuan untuk orang beriman. “Simbolon” lalu berarti juga himpunan, ringkasan, ikhtisar. Dalam “simbolon iman” diringkaskan kebenaran-kebenaran iman yang pokok. Karena itu, ia dipakai sebagai pegangan pertama, sebagai teks pokok katekese.

189   Pengakuan iman untuk pertama kalinya diucapkan pada kesempatan Pembaptisan. Pada tempat pertama ia merupakan pengakuan Pembaptisan. Karena Pembaptisan dilaksanakan dalam “nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19), maka kebenaran-kebenaran iman yang diakui waktu Pembaptisan disusun sesuai dengan hubungannya dengan tiga Pribadi Tritunggal Mahakudus.

190   Dengan demikian, simbolon mempunyai tiga bagian pokok: “Dalam bagian pertama dibicarakan tentang Pribadi pertama dalam Allah dan tentang karya penciptaan yang mengagumkan; dalam bagian kedua tentang Pribadi kedua dan tentang rahasia penebusan manusia; dalam bagian ketiga tentang Pribadi ketiga, pangkal dan sumber pengudusan kita” (Catech. R. 1,1,4). Itulah “ketiga bagian pokok dari meterai [Pembaptisan] kita” (Ireneus, dem. 100).

191   Tiga bagian ini berbeda satu dengan yang lain, tetapi saling berhubungan. “Kita menamakan mereka sesuai dengan perumpamaan yang sering dipakai oleh para bapa articuli [anggota]. Sebagaimana orang membedakan anggota-anggota sebuah badan menurut bagian-bagiannya, demikian juga kita menamakan dalam pengakuan iman kita ini setiap bagian khusus, yang disampaikan kepada kita untuk diimani, sebagai articulus” (Catech. R. 1,1,4). Sesuai dengan tradisi lama yang sudah disaksikan oleh santo Ambrosius, orang biasanya menghitung dua belas artikel Credo supaya jumlah para Rasul itu melambangkan seluruh iman apostolik.

192   Sesuai dengan kebutuhan aneka ragam zaman timbullah dalam peredaran zaman banyak pengakuan atau simbola iman. Simbola beberapa Gereja apostolik tua, “Quicumque” yang disebut simbolon Atanasian, pengakuan iman dari konsili dan sinode tertentu atau Paus tertentu, umpamanya “Fides Damasi” dan “Credo Umat Allah” (SFP) dari Paus Paulus VI 1968.

193   Tidak satu pun pengakuan dari berbagai zaman dalam kehidupan Gereja dapat dipandang sebagai kedaluwarsa atau tidak bernilai. Semuanya mencakup iman segala zaman secara singkat dan membantu kita sekarang untuk menangkapnya dan mengertinya dengan lebih dalam.

Dua pengakuan mendapat tempat yang sangat khusus dalam kehidupan Gereja:

194   Syahadat apostolik, yang dinamakan demikian karena dengan alasan kuat ia dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul. Itulah pengakuan Pembaptisan lama dalam Gereja Roma. Karena itu ia mempunyai otoritas tinggi: “Itulah simbolum yang dijaga Gereja Roma, di mana Petrus, yang pertama di antara para Rasul, mempunyai takhtanya dan ke mana ia membawa ajaran iman para Rasul itu” (Ambrosius, symb. 7).

195   Juga apa yang dinamakan Syahadat Nisea-Konstantinopel mempunyai otoritas besar karena ia dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (325 dan 381) dan sampai hari ini masih merupakan milik bersama semua Gereja besar di Timur dan di Barat.

196   Penjelasan kita mengenai iman akan mengikuti pengakuan iman apostolik, yang boleh dikatakan merupakan “Katekismus Romawi tertua”. Namun penjelasan itu akan dilengkapi dengan selalu menunjuk kepada pengakuan iman Nisea-Konstantinopel yang sering lebih rinci dan lebih dalam.

197   Marilah menjadikan pengakuan iman yang menghidupkan itu, milik kita seperti pada hari Pembaptisan kita, ketika seluruh kehidupan kita dipercayakan kepada “pengajaran benar” (Rm 6:17). Mendoakan syahadat dengan iman berarti bertemu dengan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus; tetapi juga berarti dihubungkan dengan Gereja universal yang meneruskan iman kepada kita dan yang di dalam persekutuannya kita beriman.

“Simbolum ini adalah meterai rohani, renungan hati kita dan penjaga yang selalu hadir; dengan sesungguhnya ia adalah pusaka jiwa kita” (Ambrosius, sym.1).

BAB III : JAWABAN MANUSIA KEPADA ALLAH (142 – 184)

Komentar Dimatikan

142 Melalui wahyu-Nya, “Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya” (DV 2). Jawaban yang pantas untuk undangan itu ialah iman.

143 Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyukan Diri. Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman”.

ARTIKEL 4     AKU PERCAYA

I.       Ketaatan Iman

144 Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.

Abraham – “Bapa Semua Orang Beriman”

145 Dalam pidato pujian mengenai iman para leluhur, surat lbrani menonjolkan terutama iman Abraham: “Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (1br 11:8). Karena beriman, maka Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri yang dijanjikan Allah kepadanya. Karena beriman, maka Sara mengandung seorang putera yang dijanjikan. Karena beriman, maka Abraham mempersembahkan puteranya yang tunggal sebagai kurban.

146 Dengan demikian Abraham meragakan definisi iman yang diajukan oleh surat Ibrani: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11:1). “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Rm 4:3) . Karena ia “percaya tanpa ragu-ragu” (Rm 4:20), maka Abraham “menjadi bapa secara rohani bagi semua orang yang percaya kepada Allah” (Rm 4:11).

147 Dalam Perjanjian Lama terdapat banyak kesaksian iman semacam ini. Surat Ibrani menyampaikan pidato pujian tentang iman para leluhur yang patut dicontoh, iman yang membuat mereka tetap dikenang (lbr 11:2)3. Tetapi Allah telah “menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita” (Ibr 11:40): rahmat supaya beriman kepada Putera-Nya Yesus, “yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12:2).

Maria – “Berbahagialah Dia, yang Percaya

148 Perawan Maria menghayati ketaatan iman yang paling sempurna. Oleh karena  ia percaya bahwa bagi Allah “tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37), maka ia menerima pemberitahuan dan janji yang disampaikan oleh malaikat dengan penuh iman dan memberikan persetujuannya: “Lihatlah, aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Elisabet memberi salam kepadanya: “Berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Demi iman ini segala bangsa akan menyatakannya bahagia.

149 Selama seluruh kehidupannya, juga dalam percobaannya yang terakhir, ketika Yesus, Puteranya, wafat di kayu salib, imannya tidak goyah. Maria tidak melepaskan imannya bahwa Sabda Allah “akan terpenuhi”. Karena itu Gereja menghormati Maria sebagai tokoh iman yang paling murni.

II.      “Aku Tahu, kepada Siapa Aku Percaya”

Percaya hanya akan Allah

150 Iman adalah ikatan pribadi manusia dengan Allah dan sekaligus, tidak terpisahkan dari itu, persetujuan secara bebas terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah. Sebagai ikatan pribadi dengan Allah dan persetujuan terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah, iman Kristen berbeda dengan kepercayaan yang diberikan kepada seorang manusia. Menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah, dan mengimani secara absolut apa yang Ia katakan adalah tepat dan benar. Sebaliknya adalah sia-sia dan salah memberikan kepercayaan yang demikian itu kepada seorang makhluk.

Percaya akan Yesus Kristus, Putera Allah

151 Untuk seorang Kristen, iman akan Allah berhubungan erat dengan iman akan Dia, yang diutus-Nya, “Putera-Nya terkasih”, yang berkenan kepada-Nya (Mrk 1:11) dan Dia yang harus kita dengarkan. Tuhan sendiri berkata kepada murid-murid-Nya: “Percayalah kepada Allah dan percayalah kepada-Ku juga” (Yoh 14:1). Kita dapat percaya kepada Yesus Kristus karena Ia sendiri Allah, Sabda yang menjadi manusia: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Karena Ia sudah “melihat Bapa” (Yoh 6:46), Ia adalah satu-satunya yang mengenal Bapa dan dapat mewahyukan-Nya.

Percaya akan Roh Kudus

152 Orang tidak dapat percaya akan Yesus Kristus, tanpa berpartisipasi pada Roh-Nya: Roh Kudus menyatakan kepada manusia, siapa Yesus. “Tidak seorang pun dapat mengaku: `Yesus adalah Tuhan selain oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). “Roh Allah itu menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah … Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor 2:10-11). Hanya Allah yang mengenal Allah secara menyeluruh. Kita percaya akan Roh Kudus karena Ia Allah.

Gereja mengakui tanpa henti-hentinya imannya akan satu Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

III.     Ciri-ciri Iman

Iman Adalah Rahmat

153 Ketika Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup, berkatalah Yesus kepadanya: “Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang ada di surga” (Mat 16:17). Iman adalah satu anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan oleh-Nya. “Supaya orang dapat percaya seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (DV 5).

Iman Adalah Suatu Kegiatan Manusiawi

154 Hanya dengan bantuan rahmat dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya. Walaupun demikian, iman adalah satu kegiatan manusiawi yang sebenar-benarnya. Percaya kepada Allah dan menerima kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya, tidak bertentangan baik dengan kebebasan maupun dengan pikiran manusia. Dalam hubungan antar manusia pun tidak bertentangan dengan martabat kita, kalau kita percaya apa yang orang lain katakan kepada kita mengenai diri mereka sendiri dan mengenai maksudnya, dan memberi kepercayaan kepada penjanjiannya (umpamanya kalau seorang pria dan wanita kawin) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan dengan mereka. Maka dari itu, sama sekali tidak berlawanan dengan martabat kita, “dalam iman memberikan kepada Allah yang mewahyukan, ketaatan pikiran dan kehendak secara utuh” (Konsili Vatikan 1: DS 3008) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan yang mesra dengan-Nya.

155 Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat ilahi: “Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat” (Tomas Aqu., s.th. 2-2, 2,9).

Iman dan Akal Budi

156 Alasan untuk percaya tidak terdapat dalam kenyataan bahwa kebenaran yang diwahyukan itu kelihatan benar dan jelas dalam cahaya budi kodrati kita. Kita percaya “karena otoritas Allah yang mewahyukan, yang tidak dapat keliru dan tidak dapat menyesatkan” (Konsili Vatikan 1: DS 3008). Namun, “supaya ketaatan iman kita sesuai dengan akal budi, maka Allah menghendaki agar bantuan batin Roh Kudus dihubungkan dengan tanda bukti lahiriah bagi wahyu-Nya” (DS 3009). Maka mujizat Kristus dan para kudus, ramalan, penyebaran dan kekudusan Gereja, kesuburannya dan kelanjutannya, “dengan sesungguhnya adalah tanda-tanda wahyu ilahi yang jelas dan sesuai dengan daya tangkap semua orang” (DS 812, 3009), alasan-alasan bagi kredibilitas, yang menunjukkan bahwa “penerimaan iman sekali-kali bukanlah suatu gerakan hati yang buta” (DS 3010).

157 Iman itu pasti, lebih pasti dari setiap pengertian manusiawi, karena ia berdasarkan Sabda Allah yang tidak dapat menipu. Memang kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dapat kelihatan gelap bagi budi dan pengalaman manusiawi, tetapi “kepastian melalui cahaya ilahi itu lebih besar daripada kepastian melalui cahaya akal budi alamiah” (Tomas Aqu., s.th.2-2,171,5 obj.3). “Ribuan kesukaran dan kesulitan tidak sama dengan kebimbangan” (J.H. Newman, apol.).

158 Iman berusaha untuk mengerti (Anselmus prod. prooem). Orang yang benar-benar percaya, berusaha untuk mengenal lebih baik dia, kepada siapa ia telah memberikan kepercayaannya, dan untuk mengerti lebih baik apa yang telah dinyatakannya. Pengertian yang lebih dalam pada gilirannya akan membangkitkan iman yang lebih kuat, iman yang semakin dijiwai oleh cinta. Rahmat iman membuka “mata hati” (Ef 1:18) menuju suatu pengertian yang hidup mengenai isi wahyu, artinya, mengenai keseluruhan rencana Allah dan misteri iman, demikian juga hubungannya antara yang satu dengan yang lain dan dengan Kristus, pusat misteri yang diwahyukan. “Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui karunia-karunia-Nya” (DV 5). Maka, benar apa yang dikatakan santo Agustinus: “Aku percaya supaya mengerti, dan aku mengerti supaya percaya lebih baik” (serm. 43,7,9).

159 Iman dan ilmu pengetahuan. “Meskipun iman itu melebihi akal budi,namun tidak pernah bisa ada satu pertentangan yang sesungguhnya antara iman dan akal budi: karena Allah yang sama, yang mewahyukan rahasia-rahasia dan mencurahkan iman, telah menempatkan di dalam roh manusia cahaya akal budi; tetapi Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri, dan tidak pernah yang benar bisa bertentangan dengan yang benar” (Konsili Vatikan 1: DS 3017). “Maka dari itu, penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan dengan sungguh ilmiah dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan, tidak akan pernah sungguh bertentangan dengan iman karena hal-hal profan dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama. Bahkan barang siapa dengan rendah hati dan dengan tabah berusaha menyelidiki rahasia-rahasia alam, kendati tanpa disadari pun ia bagaikan dituntun oleh tangan Allah yang melestarikan segala sesuatu dan menjadikannya sebagaimana adanya” (GS 36,2).

Kebebasan Iman

160 Supaya iman itu manusiawi, “manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu, tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakikatnya kita menyatakan iman kita 2106 dengan kehendak yang bebas” (DH 10). “Allah memanggil manusia untuk mengabdi diri-Nya dalam roh dan kebenaran. Maka ia juga terikat dalam suara hati, tetapi tidak dipaksa … Adapun itu nampak paling unggul dalam Kristus Yesus” (DH 11). Kristus memang mengundang untuk beriman dan bertobat, tetapi sama sekali tidak memaksa. “Sebab Ia memberi kesaksian akan kebenaran, tetapi tidak mau memaksakannya kepada mereka yang membantahnya. Kerajaan-Nya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan memberi kesaksian akan kebenaran serta mendengarkannya. Kerajaan itu berkembang karena cinta kasih, cara Kristus yang ditinggikan di salib menarik manusia kepada diri-Nya” (DH ll).

Perlunya Iman

161 Percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutus-Nya demi keselamatan kita adalah perlu supaya memperoleh keselamatan. “Karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6) dan sampai kepada persekutuan anak-anak-Nya, maka tidak pernah seorang pun dibenarkan tanpa Dia, dan seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak `bertabahan sampai akhir (Mat 10:22; 24:13) dalam iman” (Konsili Vatikan 1, DS 3012)3.

Ketabahan dalam Iman

162 Iman adalah satu anugerah rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Kita dapat kehilangan anugerah yang tak ternilai itu. Santo Paulus memperingatkan Timotius mengenai hal itu: “Hendaklah engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka” (1 Tim 1:18-19). Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya, menumbuhkan iman itu. Ia harus “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6), ditopang oleh pengharapan dan berakar dalam iman Gereja.

Iman – Awal Kehidupan Abadi

163 Iman membuat kita menikmati sebelumnya kegembiraan dan cahaya pandangan Allah yang menyelamatkan, yang adalah tujuan dari perjalanan duniawi kita. Lalu kita akan melihat Allah “dari muka ke muka” (1 Kor 13:12) “dalam keadaannya yang sebenarnya” (1 Yoh 3:2). Dengan demikian iman adalah awal kehidupan abadi.

“Kita mengharapkan kenikmatan dari hal-hal yang dijanjikan kepada kita karena rahmat. Kalau kita memandangnya dalam iman sebagai dalam cermin, hal-hal itu sudah hadir bagi kita” (Basilius, Spir, 15,36).

164 Tetapi sekarang kita hidup “berdasarkan iman kepada Kristus, bukan berdasarkan spa yang kelihatan” (2 Kor 5:7), dan kita melihat Allah sebagai bayangan yang kabur bagaikan dalam cermin. Iman diterangi oleh Allah kepada-Nya iman itu ditujukan; namun ia sering dihayati dalam kegelapan. Iman dapat diuji atas cara yang berat. Dunia, di mana kita hidup, rupanya masih sangat jauh dari apa yang dijamin oleh iman bagi kita. Pengalaman mengenai yang jahat dan kesengsaraan, ketidakadilan dan kematian, rupa-rupanya bertentangan dengan kabar gembira. Mereka dapat menggoyahkan iman dan dapat menjadi percobaan baginya.

165 Lalu kita perlu berpaling kepada saksi-saksi iman: Abraham, yang terus saja “berharap dan percaya meskipun tidak ada dasar untuk berharap lagi” (Rm 4:18); Perawan Maria yang “maju dalam ziarah iman” (LG 58) malahan masuk “dalam kegelapan iman” (RM 18), dengan mengambil bagian dalam kesengsaraan dan kegelapan makam Puteranya dan masih banyak lagi saksi-saksi iman: “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12:1-2).

ARTIKEL 5

KAMI PERCAYA

166 Iman adalah satu perbuatan pribadi: jawaban bebas manusia atas undangan Allah yang mewahyukan Diri. Tetapi iman bukanlah satu perbuatan yang terisolir. Tidak ada seorang pun dapat percaya untuk dirinya sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang dapat hidup untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang yang memberikan iman kepada diri sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang memberi kehidupan kepada diri sendiri. Yang percaya menerima kepercayaan dari orang lain; ia harus melanjutkannya kepada orang lain. Cinta kita kepada Yesus dan kepada sesama mendorong kita supaya berbicara kepada orang lain mengenai iman kita. Dengan demikian, setiap orang yang percaya adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat percaya, kalau saya tidak didukung oleh kepercayaan orang lain dan oleh kepercayaan saya, saya mendukung kepercayaan orang lain.

167 “Aku percaya” (pengakuan iman apostolik): itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. “Kami percaya” (pengakuan iman dari Nisea-Konstantinopel Yn.): itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. “Aku percaya”: demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: “aku percaya”, “kami percaya”.

I.       “Tuhan, Perhatikanlah Iman Gereja-Mu”

168 Pertama-tama Gerejalah, yang percaya dan dengan demikian menopang, memupuk dan mendukung iman saya. Pada tempat pertama Gerejalah yang mengakui Tuhan di mana-mana (“Kepadamu Gereja kudus beriman, tersebar di seluruh dunia”, demikian kita menyanyi dalam madah Te Deum), dan bersama dia dan dalam dia, kita juga mengakui: “aku percaya”, “kami percaya”. Melalui Gereja kita menerima dalam Pembaptisan iman dan kehidupan baru dalam Kristus. Dalam ritus Romawi, pemberi Pembaptisan bertanya kepada yang menerima Pembaptisan: “Apa yang kau minta dari Gereja Allah?” Jawabannya: “Iman” – “Iman memberi apa kepadamu?” – “Kehidupan kekal” (RR. OBA).

169 Keselamatan datang hanya dari Allah, tetapi karena kita menerima kehidupan iman melalui Gereja, maka ia adalah ibunda kita: “Kita mengimani Gereja sebagai ibu kelahiran kembali kita, dan bukan kita percaya akan Gereja, seakan-akan dialah pangkal keselamatan kita” (Faustus d. Riez, Spir. 1,2). Sebagai ibunda kita, ia juga adalah pendidik kita dalam iman.

II. Bahasa Iman

170 Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya dan yang dapat kita “raba” oleh karena iman. “Perbuatan orang beriman mempunyai tujuan bukan pada pengungkapan, melainkan pada kenyataan [yang diungkapkan] (Tomas Aqu., s.th. 2-2,1,2 ad 2). Tetapi kita mendekati kenyataan-kenyataan ini dengan bantuan rumus-rumus iman. Formula ini memungkinkan untuk menyatakan dan merumuskan iman, untuk merayakan bersama, untuk menjadikannya milik kita dan untuk semakin hidup darinya.

171 Sebagai “tiang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15), Gereja menyimpan dengan setia “iman yang sudah satu kali diberikan Allah untuk selama-lamanya kepada umatnya” (Yud 3). Ia menyimpan kata-kata Kristus dalam ingatannya; ia meneruskan pengakuan iman para Rasul dari generasi ke generasi. Sebagai seorang ibu yang mengajarkan anak-anaknya berbicara dan dengan demikian juga mengerti dan hidup bersama, Gereja, ibu kita, mengajarkan bahasa iman kepada kita supaya menghantar kita masuk ke dalam pengertian dan kehidupan iman.

III. Hanya Satu Iman

172 Sejak berabad-abad Gereja mengakui di dalam sekian banyak bahasa, kebudayaan, bangsa, dan negara imannya yang satu-satunya, yang diterimanya dari Tuhan yang satu, yang diteruskannya oleh Pembaptisan yang satu, yang berakar dalam keyakinan bahwa semua manusia hanya mempunyai satu Allah dan Bapa. Santo Ireneus dari Lyon, seorang saksi iman itu, menerangkan:

173 “Gereja hadir di seluruh dunia sampai ke batas-batas bumi terjauh. Ia telah menerima iman dari para Rasul dan murid-murid mereka … dan menyimpan [pesan ini dan iman ini] sebagaimana yang diterimanya, seakan-akan ia tinggal dalam satu rumah saja; ia percaya demikian kepadanya, seakan-akan ia hanya mempunyai satu jiwa dan satu hati, dan memaklumkan dan meneruskan pengajarannya dengan suara bulat, seakan-akan ia hanya mempunyai satu mulut” (haer. 1,10,1-2).

174 “Meskipun di atas bumi ini terdapat aneka ragam bahasa, namun wibawa tradisi hanyalah satu dan sama. Gereja-gereja yang didirikan di Germania percaya dan meneruskan iman yang sama seperti Gereja-gereja di Spanyol atau pada orang Kelt, sama seperti mereka di kawasan timur atau di Mesir, di Libya atau di tengah bumi … ” (ibid.) “Pesan Gereja itu benar dan dapat dipercaya karena padanya tampil di seluruh jagat jalan yang satu dan sama menuju keselamatan” (haer. 5,20,1).

175 “Kita memelihara dengan penuh perhatian, iman yang telah kita terima dari Gereja. Sebagai harta yang berharga, yang disimpan dalam satu bejana yang sangat baik, iman itu selalu diremajakan oleh karya Roh Kudus dan dengan demikian diremajakan pula bejana yang menyimpannya”(haer.3,24,1).

TEKS-TEKS SINGKAT

176 Iman adalah satu ikatan pribadi manusia seutuhnya kepada Allah yang mewahyukan Diri. Di dalamnya terdapat persetujuan akal budi dan kehendak terhadap wahyu Diri Allah melalui perbuatan dan perkataan-Nya.

177 Dengan demikian `percaya” mempunyai hubungan ganda: hubungan dengan pribadi dan hubungan dengan kebenaran; kegiatan iman berhubungan dengan kebenaran melalui kepercayaan kepada pribadi yang memberi kesaksian tentang kebenaran itu.

178 Kita tidak boleh percaya akan orang lain selain akan Allah, Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

179 Iman adalah anugerah adikodrati dari Allah. Supaya dapat percaya, manusia membutuhkan pertolongan batin dari Roh Kudus.

180 “Beriman ” adalah kegiatan manusia yang sadar dan bebas, yang sesuai dengan martabat pribadi manusiawi.

181 “Beriman ” adalah satu kegiatan gerejani. Iman Gereja mendahului iman kita, memberi kesaksian, menopangnya dan memupuknya. Gereja adalah ibu semua orang beriman. “Tidak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa, kalau is tidak mempunyai Gereja sebagai ibu ” (Siprianus, unit.eccl.).

182 “Kita mengimani segala sesuatu, yang terdapat dalam Sabda Allah yang tertulis atau yang diwariskan dan yang disampaikan oleh Gereja supaya diimani sebagai kebenaran yang diwahyukan Allah ” (SPF 20).

183 Iman itu perlu untuk keselamatan. Tuhan sendiri berkata: ” Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum ” (Mrk 16:16).

184 “Iman adalah prarasa dari pengetahuan, yang akan membuat kita bahagia dalam kehidupan yang akan datang” (Tomas Aqu., comp. 1,2).

BAB 2: ALLAH MENYONGSONG MANUSIA (50-141)

Komentar Dimatikan

50. Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenalAllah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi Bdk. Konsili Vat I: DS 3015.. Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia, dan menyingkapkan rahasia-Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan-Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus. 36, 1066.

ARTIKEL 1: WAHYU ALLAH ( 51-73 )

I. Allah Mewahyukan “Keputusan-Nya yang Berbelaskasihan”

51. “Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya; berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi” (DV 2).

52. Allah “yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1 Tim 6:16) hendak menyampaikan kepada manusia, yang Ia ciptakan dalam kebebasan, kehidupan ilahi-Nya sendiri, supaya melalui Putera-Nya yang tunggal Ia mengangkat mereka menjadi anak-anak-Nya Bdk. Ef 1:4-5.. Dengan mewahyukan Diri, Allah hendak menyanggupkan manusia untuk memberi jawaban kepada-Nya, mengakui-Nya dan mencintai-Nya atas cara yang jauh melampaui kemampuan manusia itu sendiri.

53. Keputusan wahyu ilahi itu diwujudkan “dalam perbuatan dan perkataan yang bertalian batin satu sama lain” (DV2). Di dalamnya tercakup “kebijaksanaan mendidik” ilahi yang khas: Allah menyatakan Diri secara bertahap kepada manusia; Ia mempersiapkan manusia secara bertahap untuk menerima wahyu diri-Nya yang adikodrati, yang mencapai puncaknya dalam pribadi dan perutusan Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia.

Dengan menggunakan kiasan bahwa Allah dan manusia seakan-akan saling membiasakan diri satu sama lain, santo Ireneus dari Lyon berbicara berulang kali tentang pedagogi ilahi ini. “Sabda Allah berdiam dalam manusia dan menjadi putera manusia, supaya manusia membiasakan diri untuk menerima Allah, dan Allah membiasakan diri untuk tinggal dalam manusia seturut perkenanan Bapa” (haer. 3,20,2) Bdk. misalnya haer. 3,17,1; 4,12,4; 4,21,3..

II. Tahap-tahap Wahyu

54. “Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui Sabda-Nya (lih. Yoh 1:3) serta melestarikannya dalam makhluk-makhluk, senantiasa memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada manusia (lih. Rm 1:19-20). Lagi pula karena Ia bermaksud membuka jalan menuju keselamatan di surga, Ia sejak awal mula telah menampakkan Diri kepada manusia pertama” (DV3). Ia menghimpun mereka dalam suatu persatuan yang erat dengan diri-Nya, sambil menghiasi mereka dengan rahmat dan keadilan yang gemilang.

55. Wahyu ini tidak diputuskan oleh dosa leluhur kita. “Karena sesudah mereka jatuh, dengan menjanjikan penebusan [Allah] mengangkat mereka untuk mengharapkan keselamatan (lih. Kej 3:15). Tiada putus-putusnya Ia memelihara umat manusia, untuk mengaruniakan hidup kekal kepada semua, yang mencari keselamatan dengan bertekun melakukan apa yang baik (lih. Rm 2:6-7)” (DV 3).

Ketika manusia “kehilangan persahabatan dengan Dikau karena tidak setia, ia tidak Kaubiarkan merana di bawah kekuasaan maut. … Berulang kali Engkau menawarkan perjanjian kepada mereka” (MR, Doa Syukur Agung IV, 118).

56. Ketika kesatuan umat manusia terpecah belah oleh dosa, Allah coba meluputkan umat manusia sebagian demi sebagian. Dalam perjanjian yang Ia lakukan dengan Nuh sesudah air bah Bdk. Kej 9:9., kehendak keselamatan ilahi dinyatakan kepada “bangsa-bangsa”, artinya kepada manusia-manusia, yang tinggal di “negerinya masing-masing dan mempunyai bahasa serta suku-sukunya sendiri” (Kej 10:5) Bdk. Kej 10:20-31..

57. Tata aturan bangsa-bangsa yang banyak Bdk. Kis 17:26-27., yang dipercayakan oleh penyelenggaraan ilahi kepada pengawalan para malaikat Bdk. Ul 4:19; 32:8 LXX., adalah sekaligus kosmis, sosial, dan religius. Aturan ini dimaksudkan untuk membendung kesombongan umat manusia yang sudah jatuh, yang bersatu dalam cita-citanya yang jahat Bdk. Keb 10:5. untuk membentuk dirinya menjadi kesatuan seturut model Babel Bdk. Kej 11:4-6.. Tetapi karena dosa Bdk. Rm 1:18-25., maka aturan sementara ini selalu terancam dan dapat jatuh ke dalam penyimpangan kafir yakni politeisme dan pendewaan bangsa serta pemimpinnya.

58. Perjanjian dengan Nuh berlaku selama waktu bangsa-bangsa Bdk. Luk 21:24. sampai kepada pewartaan Injil di seluruh dunia. Kitab Suci menghormati beberapa tokoh besar dari “bangsa-bangsa”: “Abel yang adil”, raja dan imam Melkisedek Bdk. Kej 14:18. sebagai lambang Kristus Bdk. Ibr 7:3., “Nuh, Daniel, dan Ayub” yang adil (Yeh 14:14). Dengan demikian Kitab Suci menegaskan kesucian agung yang dapat dicapai oleh mereka yang hidup tekun sesuai dengan perjanjian Nuh sambil menantikan Kristus yang akan datang “untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh 11:52).

59. Supaya mengumpulkan kembali umat manusia yang tercerai-berai, Allah memilih Abram dan memanggilnya keluar dari negerinya, dari kaum keluarganya dan dari rumah bapanya Bdk. Kej 12:1., untuk menjadikannya Abraham yang berarti “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:5): “Karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi” (Kej 12:3 LXX) Bdk. Gal 3:8..

60. Bangsa yang berasal dari Abraham menjadi pembawa janji yang Allah ikrarkan kepada para bapa bangsa, menjadi bangsa terpilih Bdk Rm 11:28. yang dipanggil dengan maksud mempersiapkan pengumpulan semua anak Allah dalam kesatuan Gereja Bdk. Yoh 11:52; 10:16.. Bangsa ini menjadi akar pohon, yang padanya akan dicangkokkan orang-orang kafir, kalau mereka sudah percaya Bdk. Rm 11:17-18.24..

61. Para bapa bangsa, para nabi dan tokoh-tokoh besar yang lain dalam Perjanjian Lama dari dulu dan terus dihonnati dalam semua tradisi liturgi sebagai orang-orang kudus.

62. Dalam waktu sesudah zaman para bapa, Tuhan menjadikan Israel bangsa-Nya. Ia membebaskannya dari perhambaan di Mesir, mengadakan perjanjian dengannya di Sinai, dan memberi kepadanya hukum-Nya melalui Musa, supaya mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, sebagai bapa penyelenggara dan sebagai hakim yang adil, dan untuk menantikan Juru Selamat terjanji Bdk. DV 3.. 2060, 2574, 1961.

63. Israel adalah bangsa imam-imam Allah Bdk. Kel 19:6., yang telah diberkati dengan “nama Allah” (Ul 28:10). Itulah bangsa orang-orang, “yang menerima Sabda Allah sebelum kita” (MR, Jumat Agung, Doa umat meriah 6), bangsa “kakak-kakak” dalam iman Abraham. 204, 2810, 839.

64. Dengan perantaraan para nabi, Allah membina bangsa-Nya dalam harapan akan keselamatan, dalam menantikan satu perjanjian yang baru dan kekal, yang diperuntukkan bagi semua orang Bdk. Yes 2:2-4. dan ditulis dalam hati mereka Bdk. Yer 31:31-34; Ibr 10:16.. Para nabi mewartakan pembebasan bangsa Allah secara radikal, penyucian dari segala kejahatannya Bdk. Yeh 36., keselamatan yang mencakup semua bangsa Bdk. Yes 49:5- 6; 53:11.. Terutama orang yang miskin dan rendah hati di hadapan Allah Bdk. Zef 2:3. menjadi pembawa harapan ini. Wanita-wanita saleh seperti Sara, Ribka, Rahel, Miriam, Debora, Hana, Yudit, dan Ester tetap menghidupkan harapan akan keselamatan Israel itu; tokoh yang termurni di antara mereka adalah Maria Bdk. Luk 1:38..

III. Yesus Kristus – Perantara dan Pemenuhan Seluruh Wahyu

65. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari Salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:

“Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu… Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang ini masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm. 2,22).

66. “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

67. Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

TEKS-TEKS SINGKAT

68. Allah sudah mewahyukan dan mengaruniakan Diri kepada manusia karena cinta. Dengan demikian Ia memberi jawaban yang berlimpah dan definitif atas pertanyaan mengenai arti dan tujuan kehidupan ini yang dihadapi manusia.

69. Allah mewahyukan Diri kepada manusia dengan cara menyampaikan misteri-Nya kepadanya secara bertahap melalui perbuatan dan perkataan.

70. Melampaui kesaksian tentang Diri dalam makhluk ciptaan, Allah telah menyatakan Diri kepada leluhur kita. Ia berkata-kata kepada mereka, sesudah jatuh dalam dosa Ia menjanjikan keselamatan Bdk. Kej 3:15. dan menawarkan perjanjian-Nya kepada mereka.

71. Tuhan mengadakan perjanjian kekal dengan Nuh, perjanjian antara Dia dan segala makhluk hidup Bdk. Kej 9:16.. Selama dunia ini berlangsung, berlangsung pulalah perjanjian ini.

72. Allah memilih Abraham dan mengadakan perjanjian dengan dia dan dengan keturunannya. Dari mereka itu Ia membentuk satu bangsa bagi diri-Nya, kepadanya Ia mewahyukan hukum-Nya dengan perantaraan Musa. Ia mempersiapkan bangsa ini melalui para nabi agar menerima keselamatan yang dimaksudkan untuk seluruh umat manusia.

73. Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada wahyu lain lagi.

ARTIKEL 2: PENTRADISIAN WAHYU ILAHI ( 74-100 )

74. Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4), artinya supaya semua orang mengenal Yesus Kristus Bdk. Yoh 14:6.. Karena itu Kristus harus diwartakan kepada semua bangsa dan manusia dan wahyu mesti sampai ke batas-batas dunia.

“Dalam kebaikan-Nya Allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunan” (DV 7).

I. Tradisi Apostolik

75. “Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Maha tinggi, memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka” (DV 7).

76. Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:

?   secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;

?   secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).

77. “Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang ‘mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar'” (DV 7). Maka, “pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian, penggantian yang tiada putusnya” (DV 8).

78. Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya nielestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran tradisi itu yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa” (DV 8). 174, 1124, 2651.

79. Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: “Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)” (DV 8).

II. Hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci

80. “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

81. “Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi”.”Oleh Tradisi Suci Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka, memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (DV 9). 113.

82. “Dengan demikian maka Gereja”, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9).

83. Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu.Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus.

III. Penafsiran Warisan Iman

84. “Pusaka Suci” Bdk. 1 Tim 6:20; 2 Tim 1:12-14. iman [depositum fidei] yang tercantum di dalam Tradisi Suci dan di dalam Kitab Suci dipercayakan oleh para Rasul kepada seluruh Gereja. “Dengan berpegang teguh padanya seluruh Umat Suci bersatu dengan para Gembala mereka dan tetap bertekun dalam ajaran para Rasul dan persekutuan, dalam pemecahan roti dan doa-doa (lih. Kis 2:42 Yn). Dengan demikian dalam mempertahankan, melaksanakan, dan mengakui iman yang diturunkan itu timbullah kerukunan yang khas antara para Uskup dan kaum beriman” (DV 10).

85. “Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (DV 10).

86. “Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan,hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan-setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah” (DV 10).

87. Kaum beriman mengenangkan perkataan Kristus kepada para Rasul: “Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk 10:16) Bdk. LG 20. dan menerima dengan rela ajaran dan petunjuk yang diberikan para gembala kepada mereka dalam berbagai macam bentuk.

88. Wewenang Mengajar Gereja menggunakan secara penuh otoritas yang diterimanya dari Kristus, apabila ia mendefinisikan dogma-dogma, artinya apabila dalam satu bentuk yang mewajibkan umat Kristen dalam iman dan yang tidak dapat ditarik kembali, ia mengajukan kebenaran-kebenaran yang tercantum di dalam wahyu ilahi atau secara mutlak berhubungan dengan kebenaran-kebenaran demikian.

89. Kehidupan rohani kita dan dogma-dogma itu mempunyai hubungan organis. Dogma-dogma adalah cahaya di jalan kepercayaan kita, mereka menerangi dan mengamankannya. Sebaliknya melalui cara hidup yang tepat, pikiran dan hati kita dibuka, untuk menerima cahaya dogma iman itu Bdk. Yoh 8:31-32.. 2625.

90. Hubungan timbal balik dan kaitan batiniah antara dogma-dogma terdapat dalam wahyu misteri Kristus secara menyeluruh Bdk. Konsili Vatikan I: “nexus mysteriorum”: DS 3016; LG 25.. Terdapat “satu tata urutan atau ‘hierarki’ kebenaran-kebenaran ajaran Katolik, karena berbeda-bedalah hubungannya dengan dasar iman Kristen” (UR 11).

91. Semua orang beriman turut mengambil bagian dalam mengerti dan meneruskan kebenaran yang diwahyukan. Mereka telah menerima urapan Roh Kudus, yang mengajar mereka Bdk. 1 Yoh 2:20.27. dan yang membimbing mereka untuk mengenal seluruh kebenaran Bdk. Yoh 16:13.. 737.

92. “Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (lih. 1 Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila ‘dari para Uskup hingga para awam beriman yang terkecil’ mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

93. “Dengan perasaan iman yang dibangkitkan dan dipelihara oleh Roh Kebenaran, umat tanpa menyimpang berpegang teguh pada iman, yang sekali telah diserahkan kepada para kudus (Yud 3); dengan pengertian yang tepat umat semakin mendalam menyelaminya, dan semakin penuh menerapkannya dalam hidup mereka” (LG 12).

94. Berkat bantuan Roh Kudus maka pengertian mengenai kenyataan, demikian juga formulasi dari pusaka iman dapat bertumbuh dalam kehidupan Gereja:

-“Karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati (lih. Luk 2:19,51), merenungkan serta mempelajarinya” (DV 8); terutama “hendaknya penelitian teologis berusaha mencapai pengertian yang mendalam tentang kebenaran-kebenaran yang diwahyukan” (GS 62,7) Bdk. GS 44,2; DV 23; 24; UR 4..

-“atas dasar pemahaman yang lebih mendalam sekitar inti hal-hal rohani yang dialami” (DV 8); “kata-kata ilahi tumbuh bersama orang yang membacanya” (Gregorius Agung, hom. Ez. 1,7,8);

-“atas dasar pewartaan mereka, yang berdasarkan pergantian dalam jabatan Uskup, menerima karisma kebenaran yang pasti” (DV 8).

95. “Maka jelaslah Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Wewenang Mengajar Gereja, menurut rencana Allah yang maha bijaksana, saling berhubungan dan berpadu sedemikian rupa, sehingga yang satu tidak ada tanpa kedua lainnya dan semuanya bersama-sama, masing-masing dengan caranya sendiri, di bawah gerakan satu Roh Kudus, membantu secara berdaya guna bagi keselamatan jiwa-jiwa” (DV 10,3).

TEKS-TEKS SINGKAT

96. Apa yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul, telah diteruskan oleh mereka, yang diilhami oleh Roh Kudus, dalam khotbahnya dan secara tertulis kepada semua generasi sampai kepada kedatangan kembali Kristus yang mulia.

97. “Tradisi Suci dan Kitab Suci merupakan satu perbendaharaan keramat Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja” (DV 10). Di dalamnya Gereja yang berziarah memandang Tuhan, sumber segala kekayaannya, seperti dalam sebuah cermin.

98. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8).

99. Berkat cita rasa iman adikodrati, seluruh umat Allah menerima secara terus-menerus karunia Wahyu ilahi, mempelajarinya lebih dalam serta menghayatinya secara makin lengkap.

100. Tugas untuk menjelaskan Sabda Allah secara mengikat, hanya diserahkan kepada Wewenang Mengajar Gereja, kepada Paus dan kepada para Uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban.

ARTIKEL 3: KITAB SUCI ( 101-141 )

I. Kristus – Satu-satunya Sabda Kitab Suci

101. Untuk mewahyukan Diri kepada manusia, Allah berbicara dalam kebaikan-Nya kepada manusia dengan bahasa manusiawi: “Sabda Allah yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dahulu Sabda Bapa yang kekal, dengan Mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia” (DV 13).

102. Melalui kata-kata Kitab Suci, Allah hanya mengatakan satu kata: Sabda-Nya yang tunggal, dan di dalam Dia Ia mengungkapkan Diri seutuhnya: Bdk. Ibr 1:1-3.

“Sabda Allah yang satu dan sama berada dalam semua Kitab; Sabda Allah yang satu dan sama bergaung dalam mulut semua penulis Kitab yang suci. Dan karena sejak awal Ia adalah Allah pada Allah, Ia tidak membutuhkan suku-suku kata, karena Ia tidak bergantung pada waktu” (Agustinus, Psal. 103,4,1).

103. Dari sebab itu Gereja selalu menghormati Kitab-Kitab Suci sama seperti Tubuh Kristus sendiri. Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima baik dari mej a Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus Bdk. DV 21.

104. Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan nmakanannya dan kekuatannya Bdk. DV 24. karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa yang sebenarnya Kitab Suci itu: Sabda Allah Bdk. 1 Tes 2:13.. “Karena di dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka” (DV 21).

II. Inspirasi dan Kebenaran Kitab Suci

105. Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”.”Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11).

106. Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh” (DV 11).

107. Kitab-kitab yang diinspirasi mengajarkan kebenaran. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (DV 11).

108. Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati.

III. Roh Kudus Adalah Penafsir Kitab Suci

109. Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka Bdk. DV 12,1.

110. Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).

111. Oleh karena Kitab Suci diilhami, maka masih ada satu prinsip lain yang tidak kurang pentingnya guna penafsiran yang tepat karena tanpa itu Kitab Suci akan tinggal huruf mati saja: “Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (DV 12,3).Untuk penafsiran Kitab Suci sesuai dengan Roh, yang telah mengilhaminya, Konsili Vatikan II memberikan tiga kriteria Bdk. DV 12,3.

112. 1. Memperhatikan dengan saksama “isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci “. Sebab bagaimanapun bedanya kitab-kitab itu, yang membentuk Kitab Suci, namun Kitab Suci adalah satu kesatuan atas dasar kesatuan rencana Allah yang pusat dan hatinya adalah Yesus Kristus. Sejak Paskah hati itu sudah dibuka Bdk. Luk 24:25-27.44-46.:

“Ungkapan ‘hati Bdk. Mzm 22:15. Kristus’ harus diartikan menurut Kitab Suci yang memperkenalkan hati Kristus. Hati ini tertutup sebelum kesengsaraan, karena Kitab Suci masih gelap. Tetapi sesudah sengsara-Nya Kitab Suci terbuka, agar mereka yang sekarang memahaminya, dapat mempertimbangkan dan membeda-bedakan, bagaimana nubuat-nubuat harus ditafsirkan” (Tomas Aqu., Psal. 21,11).

113. 2. Membaca Kitab Suci “dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja”. Menurut satu semboyan para bapa “Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen [kertas dari kulit]”. Gereja menyimpan dalam tradisinya kenangan yang hidup akan Sabda Allah, dan Roh Kudus memberi kepadanya penafsiran rohani mengenai Kitab Suci… “menurut arti rohani yang dikaruniakan Roh kepada Gereja” (Origenes, hom. in Lev. 5,5).

114. 3. Memperhatikan “analogi iman”. Bdk. Rm 12:6. Dengan “analogi iman” dimaksudkan hubungan kebenaran-kebenaran iman satu sama lain dan dalam r-encana keseluruhan wahyu.

115. Sesuai dengan tradisi tua, arti Kitab Suci itu bersifat ganda: arti harafiah dan arti rohani. Yang terakhir ini dapat saja bersifat alegoris, moralis, atau anagogis. Kesamaan yang mendalam dari keempat arti ini menjamin kekayaan besar bagi pembacaan Kitab Suci yang hidup di dalam Gereja.

116. Arti harafiah adalah arti yang dicantumkan oleh kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh eksegese, yang berpegang pada peraturan penafsiran teks secara tepat. “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah” (Tomas Aqu., s.th. 1,1,10 ad 1).

117. Arti rohani. Berkat kesatuan rencana Allah, maka bukan hanya teks Kitab Suci, melainkan juga kenyataan dan kejadian yang dibicarakan teks itu dapat merupakan tanda.1. Arti alegoris. Kita dapat memperoleh satu pengertian yang lebih dalam mengenai kejadian-kejadian, apabila kita mengetahui arti yang diperoleh peristiwa itu dalam Kristus. Umpamanya penyeberangan Laut Merah adalah tanda kemenangan Kristus dan dengan demikian tanda Pembaptisan Bdk. 1 Kor 10:2..2. Arti moral. Kejadian-kejadian yang dibicarakan dalam Kitab Suci harus mengajak kita untuk melakukan yang baik. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita… sebagai peringatan” (1 Kor 10:11) Bdk. Ibr 3:1-4:11..3. Arti anagogis. Kita dapat melihat kenyataan dan kejadian dalam artinya yang abadi, yang menghantar kita ke atas, ke tanah air abadi (Yunani: “anagog?”). Misalnya, Gereja di bumi ini adalah lambang Yerusalem surgawi Bdk. Why 21:1-22:5.

118. Satu distikhon dari Abad Pertengahan menyimpulkan keempat arti itu sebagai berikut:”Littera gesta docet, quid credas allegoria moralis quid agas, quo tendas anagogia”.(Huruf mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi).

119. “Merupakan kewajiban para ahli Kitab Suci: berusaha menurut norma-norma itu untuk semakin mendalam memahami dan menerangkan arti Kitab Suci, supaya seolah-olah berkat penyelidikan yang disiapkan, keputusan Gereja menjadi lebih masak. Sebab akhirnya semua yang menyangkut cara menafsirkan Kitab Suci itu berada di bawah keputusan Gereja, yang menunaikan tugas serta pelayanan memelihara dan menafsirkan Sabda Allah” (DV 12,3).

“Saya tidak akan percaya kepada Injil sekalipun, seandainya bukan otoritas Gereja Katolik mendorong saya ke arah itu” (Agustinus, fund. 5,6).

IV. Kanon Kitab Suci

120. Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci Bdk. DV 8,3.. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab Bdk. DS 179:1334-1336:1501-1504..Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.

121. Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya Bdk. DV 14. karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

122. “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).

123. Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

124. “Sabda Allah, yang merupakan kekuatan Allah demi keselamatan semua orang yang beriman (lih. Rm 1:16), dalam kitab-kitab Perjanjian Baru disajikan secara istimewa dan memperlihatkan daya kekuatannya” (DV 17). Tulisan-tulisan tersebut memberi kepada kita kebenaran definitif wahyu ilahi. Tema sentralnya ialah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, karya-Nya, ajaran-Nya, kesengsaraan-Nya, dan pemuliaan-Nya begitu pula awal mula Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus Bdk. DV 20.

125. Injil-injil merupakan jantung hati semua tulisan sebagai “kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda Yang Menjadi Daging, Penyelamat kita” (DV 18).

126. Dalam penyusunan Injil-injil dapat kita bedakan tiga tahap:

1. Kehidupan dan kegiatan mengajar Yesus. Bunda Gereja kudus tetap mempertahankan dengan teguh dan sangat kokoh, bahwa keempat Injil “yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidup-Nya di antara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2)” (DV 19).

2. Tradisi lisan. “Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran” (DV 19).

3. Penulisan Injil-Injil. “Adapun penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan Gereja-Gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus” (DV 19).

127. Injil berganda empat itu menduduki tempat istimewa di dalam Gereja. Ini dibuktikan oleh penghormatan terhadapnya di dalam liturgi dan daya tarik yang tidak ada bandingnya, yang mempengaruhi orang kudus dari setiap zaman.”Tidak ada satu ajaran yang lebih baik, lebih bernilai dan lebih indah daripada teks Injil. Lihatlah dan peganglah teguh, apa yang tuan dan guru kita Kristus ajarkan dalam kata-kata-Nya dan lakukan dalam karya-karya-Nya” (Sesaria Muda).”Terutama Injil sangat mengesankan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dari penuh rahasia” (Teresia dari Anak Yesus. ms autob. A 83v).

128. Sudah sejak zaman para Rasul Bdk. 1Kor 10:6,11; Ibr 10:1; 1Ptr 3:21. dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi. Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama “Prabentuk” (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia.

129. Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya Bdk. Mrk 12:29-31.. Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.. Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73) Bdk. DV 16.

130. Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya “Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu.

V. Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja

131. “Adapun sedemikian besarlah daya dan kekuatan Sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta kekuatan, dan bagi putera-putera Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani” (DV 21). “Bagi kaum beriman kristiani jalan menuju Kitab Suci harus terbuka lebar-lebar” (DV 22).

132. “Maka dari itu pelajaran Kitab Suci hendaklah bagaikan jiwa teologi suci. Namun dengan sabda Kitab Suci juga pelayanan sabda, yakni pewartaan pastoral, katekese, dan semua pelajaran kristiani – di antaranya homili liturgis harus sungguh diistimewakan – mendapat bahan yang sehat dan berkembang dengan suci” (DV 24).

133. Gereja “menasihati seluruh umat Kristen dengan sangat, agar melalui pembacaan buku-buku ilahi sampai kepada ‘pengenalan Yesus Kristus secara menonjol’ (Flp 3:8). ‘Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus’ (Hieronimus, Is. prol.)” (DV 25).

TEKS-TEKS SINGKAT

134. “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus. “(Hugo dari San Viktor, Noe 2,8).

135. “Kitab Suci mengemban Sabda Allah, dan karena diilhami, memang sungguh-sungguh Sabda Allah ” (DV 24).

136. Allah adalah penyebab Kitab Suci: Ia mengilhami pengarang-pengarang manusia: Ia bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Dengan demikian Ia menjamin, bahwa buku-buku mereka mengajarkan kebenaran keselamatan tanpa kekeliruan Bdk. DV 11.

137. Penafsiran buku-buku yang diilhami terutama harus memperhatikan, apa yang hendak dikatakan Tuhan melalui penulis-penulis kudus demi keselamatan kita. “Apa yang berasal dari Roh, hanya dapat dimengerti sepenuhnya oleh karya Roh” (Origenes, hom.in Ex. 4,5).

138. Ke-46 buku Perjanjian Lama dan ke-27 buku Perjanjian Baru diakui dan dihormati oleh Gereja sebagai diilhami.

139. Keempat Injil menduduki tempat sentral, karena Yesus Kristus adalah pusatnya.

140. Kesatuan kedua Perjanjian mengalir dari kesatuan rencana dan wahyu Allah. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru, sedangkan yang Baru menyempurnakan yang Lama. Kedua-duanya saling menjelaskan. Kedua-duanya adalah Sabda Allah yang benar.

141. “Kitab-kitab ilahi seperti juga – Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja” (DV 21). Kedua-duanya memelihara dan mengarahkan seluruh kehidupan Kristen. “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, terang untuk menerangi jalanku ” (Mzm 119:105) Bdk. Yes 50:4.

BAB 1: MANUSIA SANGGUP MENEMUKAN ALLAH ( 27-49 )

Komentar Dimatikan

I. Kerinduan akan Allah

27. Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicarinya terus-menerus:

“Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah. Sebab manusia hanyalah hidup, karena ia diciptakan oleh Allah dalam cinta kasih-Nya, dan lestari hidup berkat cinta kasih-Nya. Dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya” (GS 19,1).

28. Sejak dahulu kala manusia menyatakan melalui pandangan iman dan pola tingkah laku religius (seperti doa, kurban, upacara, dan meditasi), atas berbagai cara, usaha mereka untuk menemukan Allah. Cara pengungkapan itu tidak selalu jelas artinya, tetapi terdapat sekian umum di antara segala bangsa manusia, sehingga manusia dapat disebut sebagai makhluk religius:

“Dari satu orang saja [Allah] telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:26-28).

29. Namun “hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini” (GS 19,1) dapat dilupakan oleh manusia, disalah-artikan, malahan ditolak dengan tegas. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda Bdk. GS 19-21.: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan Bdk. Mat 13:22., contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan Bdk. Kej 3:8-10. dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil Bdk. Yun 1:3..

30. “Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira” (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, “hati yang tulus”, dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan.

“Ya Allah, agunglah Engkau dan patut dipuji: kekuatan-Mu besar dan kebijaksanaan-Mu tanpa batas. Manusia yang sendiri satu bagian dari ciptaan-Mu, ingin meluhurkan Dikau. Betapapun ia berdosa dan dapat mati, namun ia ingin memuji Dikau karena ia adalah satu bagian dari ciptaan-Mu. Untuk itu, Engkau menanamkan hasrat di dalam kami karena Engkau telah menciptakan kami menurut citra-Mu sendiri. Hati kami tetap tidak tenang sampai ia menemukan ketenteraman di dalam Engkau” (Agustinus, conf. 1,1,1).

II. Jalan-jalan untuk Mengenal Allah

31. Karena manusia diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk mengenal dan mencintai Allah, ia menemukan “jalan-jalan” tertentu dalam pencarian Allah agar mencapai pengenalan akan Allah. Orang menamakan jalan-jalan ini juga “pembuktian Allah”, bukan dalam arti ilmu pengetahuan alam, melainkan dalam arti argumen-argumen yang cocok dan meyakinkan, yang dapat menghantar kepada kepastian yang sungguh.”Jalan-jalan” menuju Allah ini mempergunakan ciptaan – dunia material dan pribadi manusia – sebagai titik tolak.

32. Dunia. Dari gerak dan perkembangan, dari kontingensi, dari peraturan dan keindahan dunia, manusia dapat mengenal Allah sebagai sumber dan tujuan alam semesta.

Santo Paulus menegaskan mengenai orang kafir: “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak tampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm 1:19-20) Bdk. Kis 14:15,17; 17:27-28; Keb 13:1-9..

Dan santo Agustinus berkata: “Tanyakanlah keindahan bumi, tanyakanlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebarluas, tanyakanlah keindahan langit…. tanyakanlah semua benda. Semuanya akan menjawab kepadamu: Lihatlah, betapa indahnya kami. Keindahan mereka adalah satu pengakuan [confessio]. Siapakah yang menciptakan benda-benda yang berubah, kalau bukan Yang Indah [Pulcher], yang tidak dapat berubah” (Serm. 241,2).

33. Manusia. Dengan keterbukaannya kepada kebenaran dan keindahan, dengan pengertiannya akan kebaikan moral, dengan kebebasannya dan dengan suara hati nuraninya, dengan kerinduannya akan ketidak-terbatasan dan akan kebahagiaan, manusia bertanya-tanya tentang adanya Allah. Dalam semuanya itu ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani padanya. “Karena benih keabadian yang ia bawa dalam dirinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan asal dalam materi saja” (GS 18,1) BA. GS 14,2., maka jiwanya hanya dapat mempunyai Tuhan sebagai sumber.

34. Dunia dan manusia memberi kesaksian bahwa mereka tidak memiliki sebab mereka yang pertama serta tujuan mereka yang terakhir dalam dirinya sendiri, tetapi bahwa mereka hanya mengambil bagian dalam ADA yang tanpa titik awal dan titik akhir. Jadi melalui “jalan-jalan” yang berbeda itu manusia dapat sampai kepada pengertian bahwa ada satu realitas, yang adalah sebab pertama dan tujuan akhir dari segala-galanya, dan realitas ini “dinamakan Allah oleh semua orang” (Tomas Aqu., s.th. 1,2,3).

35. Kemampuan manusia menyanggupkannya untuk mengenal adanya Allah yang berkepribadian. Tetapi supaya manusia dapat masuk ke dalam hubungan yang akrab dengan Allah, maka Allah hendak menyatakan diri kepada manusia dan hendak memberikan rahmat kepadanya supaya dengan kepercayaan dapat menerima wahyu ini. Namun bukti-bukti mengenai adanya Allah dapat menghantar menuju kepercayaan dan dapat membantu supaya mendapat pengertian bahwa kepercayaan tidak bertentangan dengan akal budi manusia.

III. Pengetahuan tentang Allah menurut Ajaran Gereja

36. “Bunda Gereja kudus memegang teguh dan mengajar bahwa Allah, sumber dan tujuan segala makhluk, dapat diketahui dari segala makhluk ciptaan, melalui sinar kodrati akal budi manusia” (Konsili Vatikan 1: DS 3004) Bdk. DS 3026; DV 6.. Tanpa kemampuan ini manusia tidak dapat menerima wahyu Allah. Manusia memiliki kemampuan ini karena ia diciptakan “menurut citra Allah ” Bdk. Kej 1:26..

37. Namun, dalam kondisi sejarah di mana ia berada, manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah hanya dengan bantuan sinar akal budinya.

“Walaupun akal budi manusia, untuk berbicara secara sederhana saja, melalui kekuatan kodrati dan sinarnya benar-benar dapat sampai kepada pengertian yang benar dan pasti mengenai satu Allah yang berkepribadian, yang melindungi dan membimbing dunia ini dengan penyelenggaraannya, namun terdapat pula halangan yang tidak sedikit bahwa akal budi itu akan mempergunakan secara berdaya guna dan berhasil, kemampuan yang merupakan bakat pembawaan sejak lahir. Karena kebenaran yang menyangkut Allah serta hubungan antara Allah dan manusia sungguh melampaui tata dunia yang kelihatan;

kalau diterapkan pada cara hidup manusia untuk membentuknya, maka kebenaran-kebenaran itu akan menuntut pengurbanan diri dan penyangkalan diri. Akan tetapi, akal budi manusia mengalami kesulitan dalam usahanya untuk mencari kebenaran-kebenaran yang demikian itu, bukan hanya karena dorongan panca indera dan khayalan, melainkan juga karena nafsu yang salah, yang merupakan akibat dari dosa asal. Maka, terjadilah bahwa manusia dalam hal-hal yang demikian itu, mudah meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang mereka tidak inginkan sebagai benar adalah palsu atau paling kurang tidak pasti” (Pius XII Ens. “Humani Generis”: DS 3875).

38. Karena itu, perlu bahwa oleh wahyu ilahi, manusia tidak hanya diterangi mengenai apa yang mengatasi daya akal budinya, tetapi juga mengenai apa yang sebenarnya dapat diterobos oleh akal budi dalam masalah-masalah agama dan susila”, sehingga “juga dalam kondisi umat manusia dewasa ini hal-hal itu dapat diketahui oleh semua orang tanpa kesulitan, dengan kepastian yang jitu, tanpa mencampur-adukkannya dengan suatu kekeliruan” (ibid., 3876) Bdk. Konsili Vatikan I: DS 3005; DV 6; Tomas Aqu., s.th. 1,1,1..

IV. Bagaimana Berbicara tentang Allah

39. Gereja berkeyakinan, bahwa akal budi manusia dapat mengenal Allah. Dengan itu, ia memperlihatkan kepercayaan teguh bahwa mungkin sekali ia berbicara tentang Allah kepada semua manusia dan dengan semua manusia. Keyakinan itu mendasari dialognya dengan agama-agama lain, dengan filsafat dan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan kaum tak beriman dan dengan kaum ateis.

40. Karena pengetahuan kita tentang Allah itu terbatas, maka pembicaraan kita tentang Allah pun demikian juga. Kita hanya dapat berbicara tentang Allah dari sudut pandang ciptaan dan sesuai dengan cara mengerti dan cara berpikir manusiawi kita yang terbatas.

41. Segala makhluk menunjukkan keserupaan tertentu dengan Allah, terutama manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Karena itu, aneka ragam kesempurnaan makhluk ciptaan (kebenarannya, kebaikannya, keindahannya) mencerminkan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Maka, berdasarkan kesempurnaan makhluk ciptaan, kita dapat membuat pernyataan tentang Allah “sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya” (Keb 13:5).

42. Allah itu agung melebihi setiap makhluk. Karena itu, kita harus membersihkan pembicaraan kita tentang Dia terus-menerus dari segala keterbatasan, dari segala gambaran, dari segala ketidaksempurnaan, supaya jangan menggantikan Allah “yang tidak terucapkan, yang tidak dimengerti, yang tidak kelihatan, yang tidak dibayangkan” (Liturgi santo Yohanes Kristostomus, Doa Syukur Agung) dengan gambaran-gambaran manusiawi kita tentang Dia. Kata-kata manusiawi kita tidak pernah akan mencapai misteri Allah.

43. Kalau kita berbicara tentang Allah dengan cara demikian, maka bahasa kita memang mengungkapkan diri secara manusiawi, namun dengan sebenarnya menyangkut Allah sendiri, walaupun tidak mampu menyatakan Dia dalam kesederhanaan-Nya yang tidak terbatas. Kita harus sadar, bahwa “antara Pencipta dan ciptaan tidak dapat dinyatakan satu keserupaan tanpa menegaskan satu ketidakserupaan yang lebih besar lagi” (Konsili Lateran 4: DS 806). “Mengenai Allah kita tidak dapat memahami Siapa Dia, tetapi hanya Siapa yang bukan Dia, dan bagaimana semua makhluk yang lain berhubungan dengan Dia” (Tomas Aqu., s.gent. 1,30).

TEKS-TEKS SINGKAT

44. Manusia menurut kodrat dan panggilannya adalah makhluk religius. Karena ia datang dari Allah dan berjalan menuju Allah, maka hanya dalam hubungan sukarela dengan Allah, manusia dapat menghayati kehidupan manusiawi yang utuh.

45. Manusia diciptakan, supaya hidup dalam persatuan dengan Allah, di mana ia menemukan kebahagiaannya: “Kalau saya akan menggantungkan diri kepada-Mu dengan seluruh kepribadianku, maka tidak akan ada lagi kesedihan dan kesusahan yang meresahkan aku, dan kehidupanku yang seluruhnya dipenuhi oleh Engkau barulah menjadi kehidupan yang sebenarnya” (Agustinus, conf. 10,28,39).

46. Apabila manusia mendengarkan kabar makhluk-makhluk ciptaan dan suara hati nuraninya, ia dapat sampai kepada kepastian bahwa Allah berada sebagai sebab dan tujuan dari segala-galanya.

47. Gereja mengajarkan bahwa Allah yang satu-satunya dan yang benar, pencipta dan Tuhan kita, dapat diketahui dengan pasti dari segala karya-Nya, berkat sinar kodrati akal budi kita Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3026..

48. Dengan sesungguhnya kita dapat berbicara tentang Allah, apabila kita bertitik tolak dari aneka ragam kesempurnaan makhluk ciptaan, yang olehnya mereka menjadi serupa dengan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Namun bahasa kita yang terbatas, tidak dapat menyelami seluruh misteri-Nya.

49. “Tanpa Sang Pencipta makhluk lenyap menghilang” (GS 36). Karena itu kaum beriman didorong oleh cinta Kristus untuk membawa terang Allah yang menghidupkan kepada mereka, yang tidak mengenal-Nya atau menolak-Nya.

SEKSI SATU: “AKU PERCAYA” – “KAMI PERCAYA” ( 26-184 )

Komentar Dimatikan

26. Apabila kita mengakui iman kita, kita mulai dengan kata-kata: “Aku percaya” atau “kami percaya”. Sebelum kita menguraikan kepercayaan Gereja seperti yang diakui dalam syahadat, dirayakan dalam liturgi, dihayati dalam pelaksanaan perintah-perintah dan dalam doa, kita menanyakan kepada diri sendiri, apa artinya “percaya”. Kepercayaan adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia dan dengan demikian memberikan kepenuhan sinar kepada dia yang sedang mencari arti terakhir kehidupannya. Secara berturut-turut kita merenungkan pertama sekali mengenai manusia yang sedang mencari (Bab I), lalu mengenai wahyu ilahi, yang dengannya Allah menyongsong manusia (Bab II), dan akhirnya mengenai jawaban kepercayaan (Bab III).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.